Diskriminasi Gender, Masih Sensitive Tapi Dibiarkan

Aug 8, 2020 Blog, Informasi

Diskriminasi Gender, Masih Sensitive Tapi Dibiarkan

Diskriminasi gender mengacu pada praktik pemberian atau penolakan hak atau hak istimewa kepada seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Di beberapa masyarakat, praktik ini berlangsung lama dan dapat diterima oleh kedua jenis kelamin –tanpa konsensus, melainkan dengan rekayasa sosial. Misalkan, kelompok agama tertentu menerapkan diskriminasi gender sebagai bagian dari dogma mereka. Namun, di sebagian besar negara industri, itu ilegal atau umumnya dianggap tidak pantas.

Sikap terhadap diskriminasi gender biasanya dapat ditelusuri kembali ke akar segmen masyarakat tertentu. Sebagian besar diskriminasi disebabkan oleh cerita “suci” seperti seorang wanita yang dibuat dari tulang rusuk pria dan praktik sosial seperti mas kawin yang dibayarkan kepada ayah oleh calon suami untuk membeli anak perempuan mereka menjadi istri.

Referensi fiksi sastra yang tak terhitung jumlahnya dibuat untuk perempuan sebagai subjek perebutan, lebih lemah dan laki-laki digambarkan kuat, dibangunkan lewat ciuman pria, pemburu tak terkalahkan di dunia ala Hercules, atau penyihir-penyihir jahat yang digambarkan selalu wanita. Kekuatan gabungan kepercayaan rakyat dan agama ini menyisakan sedikit ruang bagi pemikiran yang adil selama berabad-abad. Bahkan gambaran neraka dalam Dante Inferno, disebutkan derita perempuan, dari menunggu, keguguran, dibunuh, sudah itu pula di bawa ke neraka. Untunglah di akhir cerita penulis membuat plot twist, semua pria yang digambarkan suci jadi setan abadi di neraka, sementara wanita yang menderita malah terbang ke surga.

Meskipun diskriminasi gender secara tradisional dipandang sebagai masalah yang biasanya dihadapi oleh perempuan, itu telah mempengaruhi laki-laki juga. Pekerjaan yang biasanya dan historis dipegang terutama oleh perempuan sering ditolak untuk laki-laki berdasarkan stigma sosial. Beberapa pekerjaan yang lebih umum yang termasuk dalam kategori ini adalah perawat, penyedia penitipan anak dan pramugari.

Dalam beberapa dekade terakhir, diskriminasi gender telah alami pembiaran, dan ini adalah penghinaan yang serius. Bahkan bias gender menyaru dalam beberapa pasal di Undang-undang, dipaksakan oleh partai yang memakai SARA, yang selama ini bercita-cita mengkerangkeng kaum wanita cukup di rumah saja. Ironisnya yang melakukan hal ini justru anggota parlemen wanita yang dirinya malah jadi representatif di parlemen karena perjuangan persamaan hak. Ini sering diberikan kepercayaan sama seperti diskriminasi rasial. Padahal negara ini dan masyarakatnya memberikan hukuman yang relatif keras kepada mereka yang melakukan diskriminasi gender.

Di negara-negara yang masyarakatnya kerap lakukan pelecehan seksual, diskriminasi gender juga seringkali melakukan pembiaran. Contohnya merebak kasus perkosaan ramai-ramai di suatu negara yang masih mengandalkan hukum perbedaan kasta. Negara tidak bisa berbuat banyak jika budaya dan adatnya memang demikian.

Dalam kasus di mana tindakan diskriminatif diulang, tindakan hukum biasanya tidak dilakukan lagi. Insiden-insiden ini biasanya terjadi pada wanita dari kalangan lemah, kaum papa. Hakim alih-alih terus menghukum pelecehan, malah memakan skenario aneh seperti menikahkan sang wanita kepada orang yang memerkosanya. Yang lainnya ada yang melakukan unjuk kekuatan, membunuh wanita nya, yang menuntut persamaan hak. Kasusnya mengendap yang paling bertanggungjawab lolos dari hukuman.

Permasalahan ini selalu mendapat update kasus, karena tidak tegasnya hukum ditegakkan. Lalu bagaimana cara negara bisa mengendalikan pertentangan yang terjadi terhadap isu sensitif seperti isu diskriminasi gender ini? Apalagi malah terlihat bahwa yang membiarkan tradisi tetap mengakar di masyarakat justru kaum wanita sendiri. Walau dapat dilihat bahwa yang menyuarakannya, justru kaum wanita yang lebih kaya.

By higsens

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!